Sabtu, 06 Oktober 2012

Pengertian Antibiotik


Antibiotik

Antibiotik adalah bahan organik yang berasal dari mikrobia yang merupakan racun dan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Nilainya yang tinggi dalam pengobatan penyakit menular terutama pada daya racun yang selektif, yang ditunjukkan kepada penyebab penyakit, tetapi tidak kepada inang yang terkena infeksi. Telah dibuktikan sekarang bahwa banyak golongan antibiotik memperlihatkan daya racunnya yang selektif karena kenyataannya sasarannya adalah struktur (fungsi) yang khusus baik sel prokariotik atau eukariotik (Pelzcar & Reid, 1958).

Antibiotik adalah semua senyawa kimia yang dihasilkan oleh organisme hidup atau yang diperoleh melalui sintesis yang memiliki indeks kemoterapi tinggi, dan manifestasi aktivitasnya terjadi pada dosis yang sangat rendah. Serta secara spesifik melalui inhibisi proses vital tertentu pada virus, mikroorganisme, atau berbagai organisme bersel majemuk. Dari segi daya kerjanya, antibiotik dapat dibedakan dalam kelompok antibiotik bakteriostatik dan antibiotik bakterisidik. Kelompok yang pertama menghambat pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Sedang kelompok yang kedua bekerja mematikan bakteri tersebut (Wattimena et al, 1991).

Pada umumnya antibiotik mengeluarkan efek bakteriosida pada organisme yang rentan dengan menghambat sintesis dinding sel, merusak membran sitoplasma, menghambat biosintesis protein dan menghambat sintesis asam nukleat. Penicillin merupakan antibiotik yang diproduksi oleh Penicillium notatum. Penicillin memiliki keunggulan yang sangat menonjol dalam mengeluarkan tindakan mematikan pada organisme yang rentan dengan menghambat sintesis peptidoglikan dinding sel mikroorganisme sehingga dinding sel bakteri yang terbentuk akan melemah yang akhirnya dapat mematikan bakteri tersebut (Volk & Wheeler, 1984).

Antibiotik bekerja dengan cara menghambat biosintesis dinding sel bakteri, dan juga bersifat bakterisidik (pada penicillin dan derivatnya). Oleh karena sintesis dinding sel terganggu, bakteri tersebut tidak mampu mengatasi perbedaan tekanan osmosa di luar dan di dalam sel, sehingga mengakibatkan kehancuran bakteri tersebut. Sedangkan antibiotik yang bekerja menghambat sintesis protein bersifat bakteriostatik, karena dengan penghambatan sintesis protein, bakteri akan kekurangan protein yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan. Antibiotik yang termasuk kelompok bakteriostastik adalah tetrasiklin, eritromisin, linkomisin dan rifampisin. Sifat bakterisidik dan bakteriostatik dapat diamati pada kejernihan daerah hambatan di sekeliling media agar yang diinokulasi dengan bakteri tertentu dan diinkubasi selama 24 jam, yang kemudian dilanjutkan sampai 48 jam. Bila daerah hambatan yang terjadi tetap bening sampai 48 jam, menunjukkan bahwa antibiotik yang digunakan adalah bakterisidik (Wattimena et al, 1991).

Antibiotika diproduksi melalui alur sintesis khusus, yang digolongkan sebagai metabolisme sekunder. Antibiotika pertama kali ditemukan secara kebetulan karena membentuk cincin hambatan. Di atas cawan agar biak yang ditumbuhi secara padat dengan kuman uji (bakteri indikator) nampak tidak terjadi pertumbuhan di sekeliling koloni fungi atau streptomiset, antibiotika berdifusi keluar dari koloni ke dalam agar dan mengakibatkan pembentukan cincin-cincin hambatan di dalam lapangan pertumbuhan bakteri yang padat. Sebagai kuman uji digunakan mikroorganisme yang representatif. Uji kualitatif dan pembuatan antibiotika sudah terpenuhi dengan menumbuhkannya di pusat lempengan agar biak dan masing-masing bakteri indikator dioleskan secara radial. Sesudah inkubasi dapat dibuat pertanyaan mengenai spektrum pengaruh antibiotik, dengan menilai besarnya hambatan pertumbuhan dari masing-masing bakteri indikator (Schlegel & Schmidt, 1994).

Terjadinya resistensi atau kekebalan dapat disebabkan oleh kemampuan organisme untuk merusak antibiotika, oleh mutasi yang memungkinkan organisme untuk menghambat langkah-langkah antibiotika, atau oleh mutasi yang menyebabkan sel menjadi tak dapat dilewati oleh antibiotika. Seperti terjadinya sekresi enzim penisilinase (juga disebut b-laktamase). Enzim ini merusak penisilin dengan hidrolisis satu ikatan molekul dan, walaupun organisme itu mungkin peka terhadap penisilin, penisilin dibuat tidak aktif sebelum antibiotika ini dapat mengeluarkan efek bakterisidanya (Volk & Wheeler, 1984).
Beberapa jenis mikroorganisme memiliki sifat yang menguntungkan dan dapat dipergunakan untuk melayani manusia. Sedikit saja orang yang menyadari akan peranan organisme dalam kehidupan sehari-hari. Antibiotik seperti penisilin adalah substansi yang dipergunakan untuk membunuh mikroorganisme patogen dalam tubuh. Beberapa diantaranya dihasilkan oleh aktivitas mikroorganisme. Sebagai contoh : penicillin diperoleh dari jamur yang disebut Penicillium (Gaman & Sherington, 1994).

Penicillin banyak tersebar di alam secara alami dan penting dalam mikrobiologi pangan. Kapang ini sering menyebabkan kerusakan pada sayuran, buah-buahan dan serealia. Penicillium juga digunakan dalam industri untuk memproduksi antibiotik. Kebanyakan spesies yang ditemukan pada makanan, penisillinnya berbentuk kompleks dan tidak simetris. Ciri-ciri spesifik penicillium adalah:
a.  Berhifa septat, miselium bercabang, biasanya tidak berwarna.
b. Konidiofora septat dan muncul di atas permukaan, berasal dari hifa di bawah permukaan, bercabang atau tidak bercabang.
c. Konidia pada waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi      kebiruan atau kecoklatan (Fardiaz, 1992).

Penemuan penisillin terjadi karena suatu ketidaksengajaan yang menguntungkan, dimana cawan biakan S. aureus terkontaminasi oleh jamur, yang kemudian diidentifikasi sebagai P. notatum. Daerah bening sekeliling koloni jamur menunjukkan bahwa jamur memproduksi suatu senyawa yang mematikan bakteri atau tidak mengijinkannya tumbuh. Diketahui sekarang senyawa itu adalah antibiotika penisillin, tetapi sekarang penisillin mengacu bukan saja satu produk, tetapi sekelompok substansi yang sangat mirip. Penicillin bekerja mematikan terhadap jenis bakteri gram positif (E. coli), dan juga beberapa sel-sel gram negatif. Berlawanan dengan banyak antibiotika yang digunakan kini, semua penisillin mempunyai keunggulan yang menonjol yaitu sifatnya yang mematikan bakteri (bakterisida) pada organisme yang rentan (Volk & Wheeler, 1984).

Semua jenis antibiotik Penisilin memiliki keunggulan yaitu dalam mematikan (bakterisida) pada organisme rentan. Untuk mengetahui bagaimana Penisilin mengeluarkan efek bakterisida perlu diketahui mekanisme sintesis peptidoglikan dinding sel, karena senyawa ini bekerja berdasarkan kemampuannya untuk menghambat sintesis dinding sel bakteri. Apapun yang mengganggu sintesis peptidoglikan akan melemahkan dinding dan menyebabkan membran sel menekan dan menghamburkan isi sel, sehingga sel mati (Volk & Wheeler, 1984).  

Antibiotika atau agen kemoterapentik seperti Amoxilin menghambat S. aureus dan semua organisme lain. Amoxilin telah mengatasi masalah spektrum kegiatan produk jamur normal yang terbatas. Amoxilin mempunyai sifat bakterisida yang normal seperti Penisilin tetapi disebut antibiotika berspektrum luas karena penisilin ini efektif terhadap banyak bakteri baik gram negatif maupun gram positif (Volk & Wheeler, 1984). Amoxilin bersifat bakterisida, mekanisme kerjanya adalah dengan mencegah pembentukan ikatan silang pada pembentukan peptidoglikan yang merupakan senyawa penyusun dinding sel. Aktivitas spektrumnya untuk bakteri gram positif, bakterisidal dan bersifat toksik (Boyd, 1984).

Amoksisilin diperoleh dengan cara mengasilasi asam 6-aminopenisilinat dengan D-(-)-2-(p-hidroksifenil)glisin. Amoksisilin berupa bubuk, putih, berasa pahit, serta tidak stabil pada kelembaban tinggi dan suhu diatas 37 8C. Kelarutannya dalam air 1 g / 370 ml dan di dalam alkohol 1 g / 2000ml. Amoksisilin mempunyai spektrum antimikroba yang identik dengan amphicillin, kecuali bahwa amoksisilin kurang aktif terhadap jenis higiela. Amoksisilin peka terhadap penisilinase. Mikroba yang resisten terhadap amoksisilin adalah bakteri yang memproduksi penisilinase, yaitu bakteri dari kelas Enterobacter, Pseudomonas dan Clostridium (Wattimena et al, 1991).

Yang termasuk dalam bakteri basili gram negatif bersifat anaerobik fakultatif adalah bakteri famili Enterobacteriaceae. Hampir semua spesies dalam kelompok ini dapat tumbuh pada medium sederhana pada kisaran pH dan suhu yang luas, yaitu mulai suhu kurang 10oC sampai lebih dari 40oC. Salah satu contoh bakteri famili ini adalah Eschericia. Jenis Eschericia hanya mempunyai satu spesies yaitu spesies Eschericia coli dan disebut koliform fekal karena ditemukan di dalam saluran usus manusia dan hewan sehingga sering terdapat  dalam feses. Bakteri ini sering digunakan sebagai indikator kontaminasi kotoran (Fardiaz,1992).

Aspergillus merupakan kapang yang banyak tersebar luas di alam, dan kebanyakan spesies ini sering menyebabkan kerusakan makanan, tetapi beberapa spesies digunakan dalam fermentasi makanan. Aspergillus jenis Aspergillus clavatus juga dapat memproduksi clavasin yang merupakan komponen antibiotik. Aspergillus dapat tumbuh baik pada substrat dengan konsentasi gula dan garam tinggi. Ciri-ciri spesifik Aspergillus adalah hifa septat dan miselium bercabang, koloni kompak, konidiofora septat atau nonseptat yang membengkak menjadi vesikel pada ujungnya, dan membawa sterigmata dimana tumbuh konidia. Konidia membentuk rantai yang berwarna hijau, coklat atau hitam. Beberapa spesies tumbuh baik pada suhu 37oC atau lebih (Fardiaz,1992).

Aktivitas antibakteri karena produksi metabolit sekunder seperti halnya penicillin umumnya dihasilkan oleh fungi. Beberapa fungi yang sering diisolasi dari berbagai produk fermentasi dan juga obat antara lain Penicillium chrysogenum dan Penicillium nalgiovense. Kedua fungi ini dikenal sebagai produsen antibiotik penicillin. Produksi penicillin terjadi ketika kapang ini tumbuh pada permukaan produk makanan kemudian memisahkannya ke dalam medium. Adanya penicillin dalam bahan makanan dapat menyebabkan reaksi alergis dan juga peningkatan resistensi manusia terhadap bakteri patogen. Fungsi penicillin antara lain mampu mencegah kolonisasi fungi ataupun bakteri yang tidak diinginkan. Akan tetapi pada sebagian bakteri mampu memproduksi enzim penicillinase dan juga β-lactamase yang merupakan inhibitor aktivitas penicillin  ( Laich et al, 2001 ).

Media adalah bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di atas atau di dalamnya. Salah satu tipe media untuk pertumbuhan jamur maupun bakteri adalah media yang dibuat dari pepton, ekstrak tanaman, agar dan komponen lain yang tidak diketahui (Pleczar & Reid, 1958). Media kultur untuk produksi antibiotik, seperti media kultur yang lain, harus berperan sebagai sumber karbon, energi, nitrogen, fosfor dan trace elements (Boyd, 1984).

Daftar Pustaka
Boyd, R. F. (1984). General Microbiology. Times Mirror. Morgy College Publishing. USA
Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Gaman, P. M & K. B. Sherrington. (1994). Ilmu Pangan : Pengantar Ilmu Pangan, Nutrisi, dan Mikrobiologi. Gadjah Mana University Press. Yogyakarta
Laich, F; F.Fierro & J.F.Martin. ( 2001 ). Production of Penicillin by Fungi Growing on Food Products : Identification of a Complete Penicillin Gene Cluster in Penicillium griseofulvum and a Truncated Cluster in Penicillium verrucosum. Applied and Environmental Microbiology.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar